JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menilai masa orientasi siswa (MOS) di sekolah tetap diperlukan untuk memberikan perkenalan kepada para siswa sebelum studi dilakukan. Hanya saja, menurutnya, MOS tidak boleh mengajarkan kekerasan. Hal itu dikatakan Nuh ketika dimintai tanggapan tewasnya Anindya Puspita (16), warga Daleman, Gadingharjo, Sarden, Yogyakarta, saat mengikuti MOS di SMK 1 Pandak, Bantul.

"Intinya MOS masih diperlukan, tetapi jangan mengandung kekerasan. Kekasaran ucapan juga bisa menimbulkan kekerasan psikologis. Misalnya, maaf, 'Goblok kamu'. Itu kekerasan. Kekerasan dalam bentuk lisan akan menyebabkan kekerasan dalam bentuk fisik. Oleh karena itu, ungkapan tidak layak dan tidak lazim di dalam dunia pendidikan tidak dibenarkan," ungkap Nuh di Istana Negara, Jakarta, Selasa (23/7/2013).

Nuh mengatakan, pihaknya bersama kepolisian masih menyelidiki peristiwa tersebut. Ia memperkirakan penyelidikan akan rampung pekan ini. Laporan awal yang diterimanya, Anindya tengah sakit ketika mengikuti MOS. Saat diperiksa, kata dia, tidak ada tanda-tanda kekerasan.

Nuh menambahkan, pihaknya selalu melakukan evaluasi terhadap pelaksaan MOS. Ia menilai pelaksaan MOS setiap tahun semakin baik lantaran semakin banyak menanamkan rasa kasih sayang. MOS, kata dia, tidak harus dengan fisik.

Menurut Nuh, kenakalan senior saat MOS biasanya paling banyak di perguruan tinggi. Pihaknya juga sudah menyampaikan kepada pimpinan perguruan tinggi agar terus mendampingi pelaksaan MOS sehingga sesuai tujuan. Lantaran bertepatan dengan bulan puasa, Nuh berharap MOS lebih berisi ajaran agama.

"(MOS) yang tidak boleh adalah yang membangkitkan anarkistis atau kekerasan karena benih-benih kekerasan harus dibuang dari dunia pendidikan. Yang harus kita tanamkan adalah kasih sayang," kata Nuh.