Get Adobe Flash player

Alumni SMPN 1 Culamega

Login Form

free counters

Foto Guru dan Karyawan

H. Enom Rusmana
Dede Budiana
Yoyo
Ai Herti
Rusmawan
Jeni
Aay
Elin
Elis
Abas
Wantu
Irma
Hj Nia
Teti
Nurhayati
Tuti
Ubaidillah
Kartini
Gugi

Pembentukan Karakter

Ada tiga lembaga paling bertanggung jawab terhadap gagal dan berhasilnya pendidikan karakter nasional, yaitu lembaga keluarga, pendidikan dan lingkungan (baca: masyarakat). Keluarga sebagai institusi sosial terkecil merupakan tempat awal nilai-nilai putih seorang manusia digoreskan.

Hampir 90 % dari masa golden age yang merupakan masa penting pertumbuhan seorang anak dihabiskan bersama keluarga. Saat ini, institusi keluarga mengambil peranan terbesar dalam peletakan dan pembangunan fondasi nilai-nilai luhur, sikap, kepribadian, watak dan karakter.

Semua nilai-nilai yang diperoleh anak-anak itu merupakan hasil dari komunikasi internal yang terjadi di institusi tersebut, baik verbal maupun non-verbal. Nasihat, larangan, kewajiban dan anjuran orang tua merupakan komunikasi verbal yang perlu dan sangat perlu dilakukan. Ketidakpedulian orang tua terhadap transfer nilai-nilai benar salah dan baik buruk akan menyebabkan seorang anak mempunyai hati yang tumpul terhadap eksistensi individu maupun sosial di luar dirinya.

Transfer nilai tidak cukup hanya melalui komunikasi verbal. Pola perilaku orang tua dan anggota keluarga inti juga menjadi faktor utama pembentukan karakter anak. Berawal dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah di tempat yang benar, sikap saling menghormati sesama dan menghargai pendapat anggota keluarga lain merupakan pelajaran yang membekas di hati seorang anak dan kerap untuk ditiru. Sebaliknya, sikap inkonsisten, plin-plan, dan kemunafikan salah seorang atau anggota keluarga lainnya akan segera dapat terekam dengan mudah dan ditiru oleh seorang anak.

Lembaga kedua yang bertanggung jawab adalah lembaga pendidikan, sebagai lembaga formal baik sekolah maupun madrasah yang secara resmi melakukan transfer ilmu pengetahuan yang di dalamnya termasuk sistem nilai, etika dan moral. Dalam institusi inilah interaksi sosial seorang anak terjadi.

Tidak berbeda jauh dengan institusi keluarga, dalam institusi pendidikan ini seorang anak secara sistematis diajar berbagai ilmu pengetahuan, baik yang bersifat know what, know why dan know how.

Di lembaga pendidikan formal, peserta didik diajarkan bersikap jujur, saling menghormati/menghargai orang lain, termasuk hak-haknya, tidak serakah, empati sosial dan sebagainya. Kendati demikian, sekali lagi, transfer ilmu pengetahuan di atas masih sangat normatif sekali.

Memang, semua hal di atas tidak berarti apapun selain sebagai basic tools yang pemanfaatannya tergantung dari sistem nilai yang dimiliki user. Bila si user mempunyai sikap dan karakter yang baik, maka pemanfaatannya akan mengarah pada tujuan positif dan sebaliknya.

Tidak dapat kita bayangkan, betapa bingungnya seorang peserta didik ketika diharuskan untuk memberikan contekan pada teman-temannya oleh seorang yang seharusnya mengajarkan kejujuran dan proudness atas originalitas. Betapa confusing-nya peserta didik kala mengetahui adanya miss-management di tempat yang seharusnya dikelola oleh para pendidik profesional.

Profesional di sini tidak hanya berarti pendidik yang memiliki absen jari, sesuai aturan, tetapi juga mempunyai integritas. Lagi-lagi, sistem nilai, etika, moral dan ilmu pengetahuan lainnya yang diajarkan di lembaga pendidikan harus diujicobakan dengan realitas lingkungan tempat peserta didik berada.

Betapapun baik dan konsistennya pengetahuan tersebut diajarkan pada peserta didik, tidak akan merubah apapun tanpa suri tauladan dari lingkungan pendidikan itu sendiri. Tidak salah pepatah mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari”.

Lembaga terakhir yang bertanggung jawab terhadap berhasil atau gagalnya pendidikan karakter nasional yang berkarakter adalah lembaga lingkungan. Di dalam lingkungan inilah semua nilai, sikap, watak dan karakter serta ilmu pengetahuan yang dipelajari secara normatif di lembaga keluarga dan pendidikan saling berinteraksi dan saling pengaruh mempengaruhi. Etika, moralitas dan karakter yang baik dari seorang anak akan tertutup oleh debu maksiat dan kemunafikan dalam tatanan masyarakat yang terjungkilbalik dan sebaliknya.

Apa yang dikatakan seorang anak ketika melihat polisi yang melakukan pembiaran terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh invividu atau kelompok atas yang lainnya? Kemelut batin apa yang dirasakan seorang anak ketika ada individu dan sekelompok orang tega melakukan pembunuhan dengan mengatasnamakan agama? Keresahan apa yang dirasakan oleh seorang anak ketika melihat wakil-wakil rakyatnya ramai-ramai masuk penjara karena ketahuan mencuri uang rakyat?

Semua sikap inkonsistensi, plin-plan dan kemunafikan akan menyebabkan kontraproduktif pada pendidikan karakter nasional. Sayangnya, lembaga lingkungan ini merupakan cermin dari dua lembaga sebelumnya. Apabila lembaga keluarga dan lembaga pendidikan berhasil memproduksi anak-anak bangsa dan peserta didik yang baik dan berkarakter, maka lembaga lingkungan pun akan terdiri manusia-manusia yang mempunyai karakter. Dengan semakin banyaknya anak bangsa yang memiliki karakter positif, maka akan terbentuk bangsa yang berkarakter.

Kurikulum pendidikan karakter terpadu

Apapun resikonya, tidak ada jalan lain bagi bangsa ini untuk segera melakukan perubahan karakter. Bangsa ini seharusnya tidak pernah berhenti berupaya untuk meletakkan nilai baik buruk maupun benar salah secara kuat. Namun, sekali lagi, perlu diingat bahwa pendidikan dan pembangunan karakter yang menghabiskan energi dan materi tidak akan pernah berhasil tanpa sinergi dari lembaga keluarga, pendidikan dan lingkungan.

Sudah saatnya, bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan kurikulum pendidikan karakter untuk mengintegrasikannya dengan lembaga keluarga dan lingkungan. Tanpa sinergi dari ketiga lembaga itu, bangsa ini akan terus menuju kebangkrutan ekonomi dan pendangkalan moral. Seperti orang bijak mengatakan bahwa; "You lose your wealth, you lose nothing; You lose your health, you lose something; You lose your character, you lose everything".

(Penulis adalah Pemerhati Pendidikan di Jakarta)

Sumber : http://edukasi.kompas.com/

Add comment


Security code
Refresh

Kalender Islam


Pesan dan Kesan

Search

000994979
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
35
138
512
993227
4477
4095
994979

Your IP: 54.196.72.162
Server Time: 2017-10-24 07:23:00

We have 6 guests and no members online

Komentar Terakhir