Get Adobe Flash player

Alumni SMPN 1 Culamega

Login Form

free counters

Foto Guru dan Karyawan

H. Enom Rusmana
Eis
Dede Budiana
Yoyo
Ai Herti
Rusmawan
Jeni
Aay
Elin
Elis
Abas
Wantu
Irma
Hj Nia
Teti
Nurhayati
Tuti
Ubaidillah
Kartini
Gugi

Jakarta - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mengundang penanggung jawab kerja sama program untuk negara-negara non-Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Ian Whitman, Selasa (2/08). Undangan bertujuan untuk mendengar analisis OECD terhadap perkembangan pembelajaran di negara-negara yang tergabung dalam Program for International Student Assesment (PISA).

Indonesia telah mengikuti PISA empat kali yakni 2000, 2003, 2006, dan 2009. Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengakui, sejak bergabung bersama PISA sampai 2006, Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam bidang literasi, sains, dan matematika. Namun pada 2009, Indonesia mengalami penurunan kembali. "Kami mempertanyakan, apa kira-kira faktor yang bisa membuat learning outcome tadi bisa lebih baik?" ujar Fasli.

Dari hasil analisis OECD, diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Di antaranya, peran guru, peran otonomi sekolah, peran kepala sekolah, peran kurikulum, dan peran kebebasan dalam memilih buku teks pelajaran. Dan untuk mata pelajaran matematika di Indonesia, hasil analisis menyebutkan bahwa standar isi masih terlalu umum. Fasli mengatakan, ke depan standar isi akan lebih di detailkan lagi. "Karena kalau tidak didetailkan, guru-guru akan kesulitan mengajarkan tingkat kecanggihan berpikir, dari level 1 ke level 6," kata Fasli saat memberikan keterangan pers seusai seminar bersama Ian Whitman.

Enam level kecanggihan berpikir yang disebut Fasli tersebut yaitu, 1. kemampuan mengingat;  2. kemampuan mengeja, membaca, dan menghafal; 3. kemampuan mengingat dan menghafal terhadap konteks; 4. kemampuan memvisualisasikan; 5. kemampuan menganalisis; dan 6. kemampuan memecahkan masalah. Saat ini, dua per tiga dari siswa di Indonesia baru berada di posisi level satu dan dua. "Anak Indonesia yang bisa mencapai level lima dan enam, itu kurang dari satu persen," ujar Fasli.

Dari analisis itu, kata Fasli, mudah-mudahan kebijakan-kebijakan pendidikan bisa disesuaikan. Mulai dari perbaikan standar isi, kompetensi guru, melatih calon guru lebih baik, mengembangkan program induksi, dan meningkatkan profesionalitas. Memang setiap tahun semakin membaik. Ke depan, kalau Indonesia tetap ikut PISA, mudah-mudahan hasilnya akan lebih baik lagi. "Kami makin tahu apa yang harus diperbaiki, baik dari kurikulum, guru, kepala sekolah, maupun dukungan dari birokrasi per jenjang terhadap sekolah," tutur Fasli.

Dalam kesempatan yang sama, Ian Whitman mengatakan, banyaknya pulau dan ragam budaya membuat tipikal pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang menyesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Tidak terpusat yang menyamaratakan satu best practice untuk semua daerah. "Tapi untuk mendukung itu semua, diperlukan tanggung jawab yang tinggi dari setiap pimpinan daerah, untuk memajukan pendidikan," katanya. (aline)

Sunber : http://www.kemdiknas.go.id/

Add comment


Security code
Refresh

Kalender Islam


Pesan dan Kesan

Search

001005068
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
78
137
1587
1002079
3575
3817
1005068

Your IP: 107.20.115.174
Server Time: 2017-12-15 00:50:03

We have 60 guests and no members online

Komentar Terakhir