Get Adobe Flash player

Alumni SMPN 1 Culamega

Login Form

free counters

Foto Guru dan Karyawan

H. Enom Rusmana
Eis
Dede Budiana
Yoyo
Ai Herti
Rusmawan
Jeni
Aay
Elin
Elis
Abas
Wantu
Irma
Hj Nia
Teti
Nurhayati
Tuti
Ubaidillah
Kartini
Gugi

Berita Pendidikan

JAKARTA– Pembayaran tunjangan sertifikasi guru pada tahun 2010 di sejumlah daerah dikabarkan terlambat.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal beralasan, terlambatnya pembayaran tunjangan sertifikasi bisa disebabkan beberapa hal. Salah satunya karena kepastian guru yang lolos sertifikasi, baru diketahui setelah anggaran dipastikan.
“Sertifikasi 2010 ada keterlambatan, karena jumlah pasti (guru, red) yang lolos sertifikasi diketahui saat anggaran sudah dipastikan,” jelas Fasli saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, kemarin.
Selain baru diketahui setelah anggaran dipastikan lanjut dia, keterlambatan pembayaran tunjangan sertifikasi guru juga bisa disebabkan dana yang tidak mencukupi. Ini berakibat anggaran tidak cukup untuk membayar semua tunjangan. “Daripada ada sebagian yang tidak dibayar, lebih baik dibagi secara merata. Ada yang dibayar 10 bulan ada juga yang 11 bulan. Itu sudah kami hitung dan masukkan dalam anggaran 2011,” ungkapnya.
Fasli mengatakan pihaknya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karena dana tunjangan sertifikasi guru tersebut telah disalurkan kepada daerah.
“(Penyelesaian) ini perlu waktu. Kami membayangkan akhir Februari 2011 sudah selesai. Ternyata sebagian besar dananya sudah disalurkan ke daerah sehingga terjadi keterlambatan. Kami akan bayar semua tunjangan yang belum dibayar. Setidaknya pada tahun 2012 tidak ada lagi yang belum terbayar, jadi semua guru yang lulus sertifikasi sebelum tahun 2011 itu akan diselsaikan di tahun 2012,” ungkap Fasli. (cdr/wmc)

Sumber : http://www.radartasikmalaya.com/

JAKARTA, KOMPAS.com — Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2011 mengumumkan hasil penerimaan jalur ujian tertulis/keterampilan, Selasa (28/6/2011). Dari 540.953 jumlah peserta SNMPTN jalur ujian tertulis/keterampilan, peserta yang lolos seleksi sebanyak 118.233 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari kelompok IPA sebanyak 56.856 orang dan kelompok ujian IPS sebanyak 61.377 orang.

Untuk itu, terdapat sedikitnya 808 bangku kosong dalam SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis. Ketua Panitia SNMPTN 2011 Herry Suhardiyanto menjelaskan, adanya 808 kursi kosong tersebut karena peserta tidak mampu mencapai batas nilai terendah yang ditetapkan di setiap program studi di setiap PTN.

"Jumlah daya tampung yang tidak terisi melalui SNMPTN jalur ujian tertulis sebanyak 808. Rupanya penyebab yang sangat mendasar adalah batas nilai terendah penerimaan," kata Herry, Selasa (28/6/2011) di Jakarta.

Panitia SNMPTN 2011 juga membeberkan data mengenai peserta Bidik Misi. Dari 4.571 siswa yang mengajukan Bidik Misi, 3.775 orang mendaftar di SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis. Dari jumha tersebut, kelompok IPA sebanyak 1.660 orang, IPS sebanyak 1.410 orang, dan IPC sebanyak 705 orang. Sementara itu, pendaftar ujian keterampilan yang diajukan dan mendapat bantuan Bidik Misi sebanyak 185 orang.

Adapun hasil pengumuman hasil seleksi SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis / keterampilan dapat diakses melalui http://www.snmptn.ac.id, http://www.ui.ac.id, http://, www.itb.ac.id, http://www.undip.ac.id, dan http://www.its.ac.id.

Sumber : http://edukasi.kompas.com/

Bandung -- Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal di hadapan para guru sains dan matematika ikut pelatihan di P4TK IPA, di Bandung, Kamis ( 23/6 ) mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia ditantang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran para peserta didiknya. Kualitas pembelajaran sangat menentukan daya saing para peserta didik anak Indonesia dengan bangsa lainnya.
Pernyataan Fasli itu merujuk pada data Programme for International Student Assessment (PISA).

Data ini berisi daya saing dan inovasi peserta didik negara-negara OECD  ( Organization for Economic Co-operation and Development ). Dari data tersebut terlihat bahwa hasil belajar peserta didik anak Indonesia masih berada di bawah bangsa lain. Bila dilihat dari enam level kecanggihan yang dirilis PISA, sekitar dua pertiga peserta didik di Indonesia masih dalam tahap menghafal tanpa mengerti apa yang dihafalkannya. "Baru sedikit yang dapat menggunakan apa yang mereka hafalkan untuk kehidupan keseharian," ujar Fasli.

Dalam enam level kecanggihan tersebut, tempat teratas adalah peserta didik yang dapat mengolah informasi, serta mampu menciptakan inovasi dan kreasi dari informasi yang mereka terima. Apabila sebuah negara masih berada di level terendah, level 1 dan 2, maka akan sulit bersaing dan hidup dalam komunitas modern dan global "Hal inilah yang menggelisahkan kita," ujar Fasli.



Untuk mencapai level tertinggi yakni agar para peserta didik dapat menjadi inventor, Fasli menganggap mata pelajaran sains dan matematika sebagai salah satu kuncinya. Karena itu, mata pelajaran ini perlu disampaikan secara aktif dan menarik. "Sains dan matematika adalah kuncinya. Itulah yang membuat anak-anak berekspolarasi, berproses, melakukan percobaan dan bermimpi-mimpi. Maka, pembelajaran yang aktif  dan kemampuan kita menyajikan pelajaran sains dan matematika akan mendukungnya," kata Fasli sembari mengatakan bahwa peran guru adalah unsur utamanya.


Penyegaran pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ) pun tidak kalah pentingnya. Karena itu, Fasli menyarankan perlunya MGMP di tingkat sekolah. Dengan demikian, sekolah yang memiliki guru sains dan matematika dalam jumlah yang besar, dapat bergabung dan melaksanakan simulasi pembelajaran terlebih dahulu sebelum hadir di MGMP tingkat wilayah. " Bila cara ini dapat diupayakan maka permasalahan guru dari satu sekolah yang datang bergantian dan tidak berkesinambungan, dapat terselesaikan," katanya sembari mengingatkan pentingnya mencari topik yang menarik untuk didiskusikan.  (yogi)

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/

KOMPAS.com - Belum lagi hilang gaung pendidikan karakter yang dicanangkan sebagai tema utama Hari Pendidikan Nasional oleh Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), dunia pendidikan kita sudah disodorkan fenomena buruk, yaitu berita-berita yang mengungkapkan kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).

Di Jakarta, ketidakjujuran penyelenggaraan UN terungkap dengan adanya pengaduan seorang bocah yang tidak tahan diintimidasi untuk secara sengaja melakukan perbuatan tercela ini. Mirisnya, kecurangan yang sama juga terungkap di Surabaya, tepatnya di SDN Gadel 2, Surabaya, Jawa Timur.

Di sekolah ini, siswa pintar yang bernama Alif (Al) lagi-lagi dipaksa untuk membagikan jawaban kepada teman-temannya. Perbuatan memalukan ini dilakukan secara sistematis dan telah melalui gradi resik contek-menyontek. Dan, hal terparah yang membuat kita "harus" mengelus dada adalah klimaksnya, yaitu pengusiran keluarga dan orang tua Al dari desa tempat mereka tinggal.

Inikah hasil dan harga sebuah kejujuran? Inikah yang dinamakan pendidikan karakter bangsa ini?

Kalau jawabannya, "ya", maka terawang Raden Ngabehi Rangga Warsita (baca: Ronggo Warsito) dalam Serat Kalatida, yang mengatakan bahwa zaman sekarang adalah zaman edan (gila) adalah benar adanya. Mereka yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Artinya, mereka yang "lurus" harus disingkirkan atau segera menyingkir.

Berbagai pihak memberikan tanggapan kasus kecurangan massal tersebut. Beberapa mengatakan, bahwa di dunia akademis, contek-menyontek adalah perbuatan paling tercela yang tak termaafkan. Oleh karena itu, para pelaku perbuatan tersebut harus mendapat sanksi.

Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menerimanya sebagai suatu kenyataan yang ada di republik ini. Tak sedikit pula, ada yang mengendap-endap mencari kesempatan untuk bersiap membuat momentum ini sebagai proyek yang menghasilkan uang.

Pendidikan Karakter dan berkarakter

Fenomena di atas hanyalah sebagian kecil dari puncak gunung es yang tampak jelas di permukaan. Kenyataannya, masalah yang dihadapi bangsa ini adalah jauh lebih besar.

Harus diakui, bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) memang telah mengupayakan pendidikan karakter sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional. Sejak bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan karakter yang notabene adalah pendidikan berbangsa dan bernegara tidak pernah lepas dari kurikulum.

Di zaman orde lama (orla) pendidikan karakter ditularkan melalui indoktrinasi politik yang pada masa orde baru (orba) diubah menjadi Pancasila dan Pendidikan P-4 dan kemudian di era reformasi saat ini diubah lagi menjadi PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Semua itu merupakan bukti, bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama telah berusaha untuk memberikan pendidikan karakter.

Dalam kurikulum pendidikan karakter di tingkat SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi, PKn mengajarkan nilai-nilai akhlak sebagai manusia sosial. Siswa ditanamkan untuk tidak berbohong, menyontek, mengambil barang yang bukan hak miliknya dan lain sebagainya. Dalam hal etika berbangsa dan bernegara, kurikulum juga mengajarkan bagaimana keharusan siswa menghargai pendapat orang lain, patuh terhadap hukum, dan tidak melakukan penindasan terhadap kelompok minoritas. Tapi, di sisi lain juga harus diakui bahwa kurikulum ini tidak berkarakter.

Kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini semakin jauh panggang dari api. Ketika para founding father mengamanahkan ke-Tuhan-an, kekerasan terhadap pemeluk agama lain semakin sering terjadi, dan pembiaran penindasan terhadap hak-hak kemanusiaan sudah menjadi hal umum. Pertikaian kelompok demi pertikaian kelompok menyimpan dendam yang semakin menjauhkan semangat persatuan nasional. Demikian pula dominasi mayoritas yang semakin menancapkan kukunya dan sejalan dengan suburnya korupsi di berbagai bidang yang merupakan diskursus semangat kerakyatan dan keadilan sosial.

Apa jadinya semua ini? Percuma menanyakan Kemdiknas dan Kemenag alasan para siswa menghalalkan contek-menyontek dan sogok-menyogok. Mereka sama bingungnya ketika dihadapi pada realita, bahwa tempat mereka bekerja menyandang gelar sebagai kementerian-kementerian paling korup di bumi pertiwi ini.

Berbagai kebohongan dan manipulasi terjadi di jajaran kementerian tersebut. Sebagai lembaga yang merumuskan kurikulum, mereka yang berada dalam lembaga ini seharusnya mengetahui serta memahami isi dari pendidikan karakter itu sendiri dan bersikap paling gigih dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan. Perilaku-perilaku demikian itulah yang menyebabkan kegagalam kurikulum ini. Pendidikan karakter yang tidak berkarakter.

Kalender Islam


Pesan dan Kesan

Search

001090120
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
164
188
948
1088371
2717
6610
1090120

Your IP: 54.198.103.13
Server Time: 2018-09-20 20:23:08

We have 14 guests and no members online