Get Adobe Flash player

Alumni SMPN 1 Culamega

Login Form

free counters

Foto Guru dan Karyawan

H. Enom Rusmana
Dede Budiana
Yoyo
Ai Herti
Rusmawan
Jeni
Aay
Elin
Elis
Abas
Wantu
Irma
Hj Nia
Teti
Nurhayati
Tuti
Ubaidillah
Kartini
Gugi

Berita Pendidikan

Konvensi Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mulai tanggal 26 sampai dengan 27 September 2013 bertujuan untuk mencari model penyelenggaraan UN yang kredibel, reliabel, dan akuntabel. Konvensi UN dihadiri oleh perwakilan dari berbagai kelompok di antaranya guru dan kepala sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah negeri dan swasta, lembaga swadaya masyarakat pendidikan dan masyarakat peduli pendidikan, dewan pendidikan dan komite sekolah, serta asosiasi yang bergerak di bidang pendidikan. Di samping itu, konvensi dihadiri perwakilan dinas pendidikan dan dinas agama baik di tingkat pusat, provinsi, serta kabupaten/kota juga.

Konvensi UN menyepakati bahwa UN tetap dilaksanakan sebagai sarana untuk mengukur prestasi belajar siswa. Sebagaimana diamanatkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (jo. PP 32 tahun 2013) tentang Standar Nasional Pendidikan, hasil UN digunakan untuk pemetaan, sarana seleksi untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta pembinaan.
Diskusi pada konvensi tersebut memustakan pada pada dua topik yaitu menejemen UN dan penentuan kelulusan. Berikut adalah hasil dari konvensi tersebut :
A.
Menejemen UN
Kesimpulan diskusi tentang menejemen UN adalah sebagai berikut:
1.
Penentuan kisi-kisi UN, dan pembuatan soal melibatkan pendidik dan para ahli dengan mekanisme ditetapkan oleh pemerintah pusat.
2.
Penyusunan kisi-kisi dilakukan oleh pemerintah pusat, sedangkan proses penyusunan soal diawasi oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.
3.
Penggandaan dan pencetakan dilakukan di provinsi dengan pengawasan dari pemerintah pusat dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta (PTN/PTS).
4.
Pendistribusian dilakukan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Distribusi soal UN dari provinsi ke kabupaten/kota dilakukan oleh pemerintah

provinsi, sedangkan distribusi dari kabupaten/kota ke satuan pendidikan dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota.
5.
Untuk menjamin keamanan dan mencegah kebocoran soal, pendistribusian baik dari provinsi ke kabupaten/kota maupun dari kabupaten/kota ke satuan pendidikan melibatkan kepolisian dan PTN/PTS.
6.
Penyerahan soal UN dari provinsi ke kabupaten/kota dan dari kabupaten/kota kepada satuan pendidikan disertai dengan berita acara.
7.
Pengawasan pelaksanaan UN pada tingkat satuan pendidikan dilakukan oleh dewan pendidikan, PTN/PTS, dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP).
8.
Pengawasan di ruang ujian dilakukan oleh guru secara silang.
9.
Pemindaian Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) SMA/MA/SMALB/SMK/ Paket C dilakukan oleh perguruan tinggi, SMP/MTs/SMPLB/Paket B/Wustha dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi, dan SD/MI/Paket A/Ula dilakukan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.
10.
Kecurangan dalam pelaksanaan UN harus diikuti sanksi yang tegas.
B.
Penentuan kelulusan
1.
Kelulusan UN ditentukan berdasarkan rasio 60% nilai UN dan 40% nilai sekolah. Komposisi nilai sekolah terdiri atas 70% nilai rapor dan 30% ujian sekolah.
2.
Batas kelulusan dari tahun ke tahun dinaikan secara bertahap.
3.
Nilai rapor harus dikirim setiap semester dan pengiriman dilakukan secara daring (on-line).
4.
Untuk meningkatkan kredibilitas dan reliabialitas UN maka ke depan dilakukan perbaikan-perbaikan sebagai berikut (a) UN mengukur ranah kognitif yang lebih tinggi (higher order thinking). Untuk itu, setiap soal diberi bobot berdasarkan pada tingkat kesulitan dan kompleksitas kompetensi yang diukur, (b) rasio kelulusan menjadi 100% ujian sekolah dan 100% UN. Hal ini berarti bahwa setiap siswa yang akan mengikuti ujian nasional harus lulus ujian sekolah terlebih dahulu.

5.
Untuk UN yang lebih kredibel dan reliabel dikembangkan peta jalan (roadmap) yang secara komprehensif mempertimbangkan berbagai aspek.
6.
Untuk menentukan intervensi peningkatan mutu yang lebih merata dan berkeadilan, pemanfaatan nilai UN sebagai dasar intervensi peningkatan mutu pendidikan pada tingkat satuan pendidikan perlu untuk segara dilaksanakan.
7.

Untuk menunjang penerimaann siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, penggunaan nilai UN sebagai dasar penerimaan segera diterapkan.

 

Sumber :  http://www.kemdikbud.go.id/

Medan—Prakonvensi Ujian Nasional (UN) Regional Medan merumuskan sebanyak 15 butir kesimpulan. Kelompok 1 yang membahas menejemen pelaksanaan UN merumuskan 11 butir kesimpulan, sedangkan kelompok 2 yang membahas komposisi nilai UN dalam penentuan kelulusan merumuskan empat butir kesimpulan.

Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Kemdikbud Bambang Indriyanto mengatakan, prakonvensi ini diselenggarakan untuk mencari masukan dan koreksi terhadap pelaksanaan UN, sehingga pelaksanaannya lebih kredibel dan reliabel. Rumusan yang dihasilkan ini nanti, kata dia, akan menjadi bagian dari keputusan di Konvensi UN pada 26 September mendatang, yang akan digelar di Jakarta.

“Kita sudah menjaring dari berbagai tempat dan hasilnya sudah optimum,” katanya pada penutupan Prakonvensi UN di Hotel Grand Swiss-bel, Medan, Sumatera Utara, Minggu (22/09/2013) malam.

Berikut rumusan prakonvensi :

Kelompok 1, menejemen pelaksanaan UN:

1.Kisi-kisi UN disiapkan oleh pemerintah dan pembuat soal melibatkan pendidik dengan mekanisme ditetapkan oleh pemerintah.
2.Jumlah paket soal yang disediakan sesuai dengan jumlah peserta ujian dalam satu ruangan.
3.Proses pelaksanaan UN harus disosialisasikan dengan maksimal.
4.Penggandaan dilakukan oleh percetakan yang kredibel dan profesional di provinsi
5.Distribusi naskah dilakukan oleh percetakan bersama dengan panitia provinsi selanjutnya ke panitia kabupaten/kota dan panitia kabupaten/kota mendistribusikan ke satuan pendidikan. Agar pendistribusian berjalan lancar maka pendataan peserta UN sudah ada di panitia paling lambat bulan Oktober.
6.Pengamanan penggandaan dan menjaga kerahasiaan naskah UN di percetakan diawasi oleh kepolisian, dinas pendidikan provinsi, dan perguruan tinggi.
7.Pengamanan dan pengawasan naskah UN di provinsi dan kabupaten/kota dilakukan oleh kepolisian dan perguruan tinggi.
8.Pengamanan dan pengawasan naskah UN di satuan pendidikan oleh kepolisian, satuan pendidikan dan perguruan tinggi.
9.Pengawas pelaksanaan UN di ruang ujian dilakukan oleh pendidik sesuai dengan satuan pendidikan yang sama dengan sistem silang.
10.Pelaksanaan UN di satuan pendidikan dapat berlangsung aman, berkualitas, dan berprestasi sesuai dengan POS.
11.Pelaksanaan UN di masa datang perlu dirancang dengan berbasis IT yang perencanaannya sudah dimulai tahun depan.

Kelompok 2, komposisi nilai UN dalam penentuan kelulusan :

1.Komposisi nilai akhir ditentukan dari 50 persen nilai sekolah, yang tersusun atas nilai rapor ditambah nilai ujian sekolah, dan 50 persen nilai UN. Alasannya, dengan komposisi itu antara sekolah dengan pemerintah (pengambil kebijakan) seimbang dalam saling mengontrol untuk membangun kejujuran.
2.Kelulusan satuan pendidikan ditentukan oleh :
  a.Nilai rapor
  b.Nilai ujian sekolah (poin a dan b adalah nilai sekolah)
  c.Lulus nilai UN
3.Nilai rapor setiap semester dimasukkan ke dalam sistem daring (online).
4.Penentuan kelulusan diserahkan ke satuan pendidikan dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang ditetapkan dengan ketentuan oleh pemerintah.   (ASW)

 

Sumber : http://www.kemdikbud.go.id/

Info Daftar Pemanggilan PLPG Rayon LPTK 136 Universitas Siliwangi Tasikmalaya Tahun 2013 yang bisa dilihat di website FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya dengan alamat : http://fkip.unsil.ac.id/sergur/

JAKARTA, KOMPAS.com — Riset  yang dilakukan selama periode 22 Agustus 2011 sampai 22 Agustus 2013 itu menemukan fakta bahwa sekolah, yang seharusnya menjadi wahana pengayaan wawasan dan pengetahuan, ternyata tidak dipandang demikian oleh sebagian peserta didiknya.  

"Ada 113.000 perbincangan tentang sekolah. Di antara perbincangan paling marak yang menyinggung kegiatan belajar-mengajar, secara tersirat pesan mereka mengesankan aktivitas belajar-mengajar di sekolah tidak menyenangkan," ujar Cindy Herlin Marta, analis PR, dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (23/8/2013). 

Salah satunya adalah "kicauan" dari akun @salam_jakarta. Pada 23 Juli 2012. Akun ini menyampaikan pesan: "Di sekolah itu hal yang paling menyenangkan ialah kelas kosong, gurunya sakit dan rapat." 

Kicauan tersebut bahkan sampai "dikicaukan ulang" hingga 6.000 kali. Sementara itu, contoh kicauan lainnya berasal dari @areailmu yang dikicaukan ulang hingga 2.000 kali. Isinya; "Di Belgia, kebanyakan sekolah belajar hanya 3 jam, selebihnya mengasah kemampuan, kalo di Indonesia?"

Namun demikian, tak sedikit pula di antara kicauan-kicauan dengan peringkat edar tinggi melihat sekolah dengan cara sebaliknya, yakni sebagai tempat menyenangkan. Tetapi, ini bukan karena para siswa bisa menimba ilmu di sana, melainkan karena dapat berjumpa kawan atau malah pacar. Hal ini terlihat pada posting yang dilontarkan @galauansmp yang dikicaukan ulang
hingga 7.000 kali: "Kangen sekolah, kangen temen, kangen ketawa bareng, kangen main bareng-bareng."

"Secara sederhana, ada dua pandangan siswa pada umumnya terhadap institusi sekolah, yaitu sekolah menyenangkan karena adanya teman-teman dan sekolah terasa menyebalkan karena harus masuk kelas," jelas Cindy. 

Lebih jauh, pada saat-saat tertentu pendidikan bisa sangat identik dengan stres. Kata "stres" terpantau mengalami lonjakan pesat di Twitter pada 14 April 2013, yaitu tepat menjelang Ujian Nasional (UN) SMA. 

"Kata stres mencapai angka perbincangan 40.816 kali di Twitter hari itu, paling tinggi dalam dua tahun. Kedekatan lonjakan ini dengan dimulainya UN jelas bukan kebetulan," imbuh Cindy. 

Kendati demikian, di balik persepsi tidak mengenakkannya kegiatan pendidikan formal, lanjut dia, publik pun masih memegang pandangan ideal bahwa pendidikan, bagaimanapun, adalah hal bermanfaat. Hal ini terlihat dari adanya kicauan semacam @sindiranjenius yang dikicaukan 6.000 kali: "Sekolah itu ajang nyari ilmu bukan ajang pamer harta ortu." 

Selain itu, larisnya novel-novel yang mengangkat perjuangan tokoh-tokohnya untuk menempuh pendidikan, seperti Laskar Pelangi, menunjukkan masyarakat memandang bahwa pendidikan merupakan hal yang perlu diperjuangkan. 

"Alangkah baik, tentu saja, bila pendidikan yang menyenangkan dan menstimulasi kreativitas seperti di novel-novel laris itu dapat dinikmati siswa siswi kita," kata Cindy.

Sumber :  http://edukasi.kompas.com/

JAKARTA, (PRLM).-Tim Indonesia menorehkan prestasi dalam ajang Olimpiade Matematika Internasional atau “International Mathematical Olympiad (IMO)” ke-54 yang berlangsung di Kota Santa Marta, Kolombia, 18-28 Juli 2013. Para pelajar Indonesia itu berhasil meraih 1 medali emas, 1 medali perak, dan 4 medali perunggu.

Sebagaimana disebutkan dalam siaran pers yang diterima “PRLM” di Jakarta, Rabu (31/7), penantian Indonesia selama 25 tahun (sejak 1988) untuk mendapatkan medali emas pertama di Olimpiade Matematika Internasional membuahkan hasil.

Pada ajang bergengsi tersebut, sumbangan medali emas pertama dipersembahkan oleh Stephen Sanjaya (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta).

Target tim Indonesia yang mengirimkan enam peserta, untuk meraih medali terpenuhi. Medali perak diraih oleh Fransisca Susan (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta).

Sementara, empat medali perunggu diraih oleh Bivan Alzacky Harmanto (SMA Labschool Jakarta), Gede Bagus Bayu Pentium (SMA Semesta Semarang), Reza Wahyu Kumara (SMAN Sragen BBS), dan Kevin Christian Wibisono (SMAK IPEKA Puri Indah Jakarta).

Prestasi membanggakan ini menempatkan Indonesia pada posisi 19 dari 97 negara peserta. Indonesia mengalahkan negara-negara di benua Eropa, seperti Italia (20), Perancis (21), Belanda (25), dan Jerman (27).

Hasil ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu yang berada di posisi 35 dari 100 negara. Saat itu tim Indonesia meraih 1 medali perak, 3 medali perunggu, dan 1 honorable mention.

Disebutkan pula, proses pembinaan hingga keberangkatan tim Indonesia ke ajang, yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Keberangkatan tim Indonesia ke ajang IMO 2013 didampingi oleh tim pembina yang terdiri atas Dr. Budi Surodjo (Universitas Gajah Mada) sebagai pemimpin tim, Dr. Yudi Satria (Universitas Indonesia) sebagai “deputy leader”, Dr. Hery Susanto (Universitas Negeri Malang) sebagai pengamat A, serta Dr. Alhaji Akbar Bachtiar (Universitas Indonesia) sebagai pengamat B.

Tim Olimpiade Matematika Indonesia dijadwalkan tiba di tanah air, Rabu, (31/7) pukul 21.00 WIB di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Provinsi Banten.(A-94/A-89)***

Sumber :  http://www.pikiran-rakyat.com/

Kalender Islam


Pesan dan Kesan

Search

000995037
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
93
138
570
993227
4535
4095
995037

Your IP: 54.196.72.162
Server Time: 2017-10-24 07:36:14

We have 62 guests and no members online

Komentar Terakhir