Karya : LIA (Kelas 9B 2012/2013)

 

 

Disuatu tempat, ada daerah terpencil, di daerah itu terdapat dua desa yang selalu bermasalah. Sering terjadi bentrokan, tawuran, penyerangan-penyerangan. Semua itu diakibatkan karena perebutan selahan tanah dan persaingan antar siswa. Sudah lima tahun mereka tidak pernah bersosialisasi dan dua tahun terakhir akibat dari bentrokan itu tiga orang siswa meninggal dunia.

Desa itu adalah desa Pancabakti dan desa Sukasari. Desa Sukasari adalah desa yang paling menentang dan tidak pernah mau mengalah. Tapi ada seorang wanita berusia 20 tahun. Namanya Saskia Artha Mulya, ia sekolah dikota, ia tinggal dikampung sukasari dan ia ditugaskan untuk menjadi guru di desa Pancabakti yang pendidikannya kurang. Saat orangtuanya tahu, kalau anaknya menjadi guru di desa Pancabakti mereka langsung menyarankan agar Saskia tidak pergi ke desa itu apalagi jadi seorang guru. Tapi, Saskia tetap ingin menjadi guru disana.

Hari pertama ia mengajar ia sudah di tolak oleh penduduk dan mahasiswa Pancabakti, SMP 08 itulah nama sekolah yang ia ajari. Mahasiswa-mahasiswa itu tidak suka pada Saskia, karena Saskia salahsatu penduduk dari desa Sukasari. Semua penduduk benci kepada dia, sampai sampai saat Saskia pulang dari sekolah ada penduduk yang melempar telur busuk ke kepalanya, tapi Saskia hanya tersenyum dan berkata, “aku takan menyerah, ini hanya awal dari keberehasilan.”

Semakin banyak hari yang terlewati dan semakin banyak perjuangan yang ia lakukan, ada dua orang mahasiswa yang suka pada dia, Namanya Fika dan Rara. Fika adalah anak dari salahsatu penentang desa Sukasari. Saat ayahnya tahu kalau anaknya dekat dengan Saskia ayahnya langsung marah. “Fika apa kamu tidak sadari kalau yang kamu dekati sekarang adalah salahsatu penduduk dari Sukasari, dan apa kamu tidak tahu kalau Sukasari itu musuh bubuyutan kita dari dulu.” Fika menjawab, “tapi bu Saskia itu baik, pak ! dia mengajarkan yang terbaik untuk kami.” “yang terbaiiikk ? ?, sejak kapan kamu melawan ayah ?, apa ini yang terbaik ?” jawab ayahnya. Dengan gugup Fika menjawab,, “tiii..dak.. ayah, bukan ituu, Fika hanyaa…. “   “DIAM ! ! kalau kamu masih dekat dengan penduduk desa itu, ayah akan mengusirmu dari rumah ini.” Fika pun menangis dan berjanji tidak akan mendekati lagi gurunya itu,,

Saat disekolah Fika terlihat ketakutan dan lesu, “Fika kenapa ?”, tanya bu Saskia. “tidak apa apa buu..” jawab Fika sambil lari. Waktu pulang sekolahpun tiba.. saat bu Saskia beranjak keluar, tiba tiba ia melihat SMP 06 dimana nama sekolah dari desanya dan SMP 08 sedang tawuran. Akibatnya, motor yang ia pakai untuk transportasi dari rumah ke sekolah hangus dibakar dan akhirnya dia hanya berjalan kaki menyusuri sungai, dia berpikir bagaimana cara agar mempersatukan dua desa itu..

Dan akhirnya pada suatu hari ia menyebarkan undangan kepada seluruh penduduk Pancabakti untuk menghadiri acara ulangtahun SMP 08 yang ke-18, sedangkan untuk desa Sukasari ia mengundang seluruh penduduk Sukasari untuk menghadiri syukuran atas nikmat yang ia dapatkan.

Dan akhirnya waktu itupun datang, dan semua penduduk yang hadir kagett!! Ternyata kalau mereka dipertemukan ditempat yang sama. Akhirnya mereka saling cekcok dan suasana pun menjadi gaduh. Saskia pun naik ke panggung dan berpidato,

“ demi tuhan, saya sedih melihat kita begini, kalian tidak pernah berpikir bagaimana generasi generasi kita nanti , jika tahu kalau kita terus begini, kenapa harus bentrok, tawuran.. masih banyak cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, tidak perlu dengan bentrokan atau tawuran. Sebenarnya saya setiaphari menangis teriris karna melihat betapa bodohnya kita dalam menghadapi masalah, setiap saya menangis, hati saya selalu bertanya apa tidak ada rasa kasihan pada anak generasi kita? ? apa tidak ada rasa cinta pada negeri ini ?  negeri yang sangat sulit untuk bisa mencapai seperti ini. Kita sudah ‘merdeka’, jadi buanglah ego kalian, untuk para orangtua, kalian sudah sangat berumur, kenapa hanya dengan selahan tanah kalian bisa bentrok ? apa kalian tidak berpikir atau merasa kalau keputusan yang diambil tidak sesuai dengan umur atau kedewasaan kalian. Untuk para mahasiswa, jangan karena kalah persaingan kalian tawuran. Kalian generasi ini, kalian yang menentukan bagaimana negeri ini kedepan, kita semua CINTA INDONESIA, dengan itu saya mohon kita harus sejahtera tanpa terjadi bentrok atau tawuran. “

Saat pidato berlangsung Saskia menangis, dan semua penduduk dari dua desa itu terharu dan bertepuk tangan,,,,

Akhirnya, kedua desa itu hidup tentraam dan aman tanpa adanya bentrok dan tawuran.